Bangun, mandi, sarapan, lalu bergegas kekantor. Semuanya seperti itu setiap
hari, selalu terburu-buru seperti pagi. Kadang aku sebal mengingat hari selalu
punya pagi, sebab pagi adalah satu-satunya yang mampu merebutmu dariku. Iya
kan? Akuilah! Kadang kita tak lagi sempat menanyakan kegiatan satu sama lain di
pagi hari, sebab kamu sibuk dan terlalu sibuk untuk menanyakannya kepadaku. Sebab
kamu akan lelah dan terlalu lelah untuk mengabariku apa saja kegiatanmu
sepanjang hari itu.
Aku tidak suka pagi. Pagi membuatmu berubah, dari seorang yang tenang
menjadi terburu-buru. Dari seorang yang penuh perhatian menjadi cuek. Dari seorang
yang kontrol emosinya bagus menjadi gampang emosi. Dari seorang yang selalu
menjinakkan rindu menjadi acuh akan rindu. Kamu berubah, bukan karena kamu
ingin kita berkenalan lalu saling jatuh cinta kembali. Bukan.
Padahal akhir-akhir ini, rindu berada pada kasta tertinggi. Kata seorang
senior, rindu berada pada kasta tertinggi saat ia memutuskan untuk menyimpan
sendiri. Namun, aku harus meminta maaf lebih awal jika nantinya aku tidak lagi
peduli padamu dan segala yang berhubungan denganmu, itu saatnya kamu harus tahu
bahwa rindu terbiasa kalah dari rasa “tahu diri”. Sebab tak ada yang pandai bersembunyi
lama-lama, tidak juga rindu. Ia sesekali butuh kecup di kening lalu ia akan
balas dengan cium di punggung telapak tanganmu. Sebab rindu serupa rumah yang
membutuhkan penghuni. Tak ada penghuni, maka hancurlah rindu dikoyak diri
sendiri. Begitulah rindu, ia terkadang membuatmu seperti semut, yang tetap akan
memilih masuk dalam gelas berisi teh manis meski tahu nantinya ia akan berakhir
mati tenggelam di dalam sana.
Aku tidak tahu kapan kamu tidak lagi mati rasa terhadap rindu. Yang aku
takutkan bila nanti kamu mulai pulih dan sudah bukan aku yang akan ‘merawatmu’
sampai benar-benar pulih. Yang aku pikirkan bila nanti kamu mulai menagih
rinduku dan ternyata semuanya telah raib, entah menguap atau apa. Tetapi, bila
seperti itu, mungkin kita bisa saling menyadari bahwa sebaik apa pun ‘rumah’,
jika ia telah memilih pergi, pasti akan pergi juga. Seperti cinta yang memilih
pergi, sekuat apa pun kamu menahan atau sebagus apa pun janji yang kamu berikan padanya, jika ia pergi maka pergilah. Tak ada yang bisa bertahan dalam
ketidakpastian. Tidak rindu, cinta, pun aku.


0 komentar:
Posting Komentar